Menjadi mahasiswa perantau dan semeter terakhir yang
tidak kunjung selesai itu sangat memuakkan. Setidaknya itulah yang saya rasakan
di awal tahun 2017 ini ketika pulang kampung. Pertanyaan “kapan wisuda?” Silih
berganti singgah ditelinga saya. Sebagai korban saya hanya bisa pasrah.
Banyak
jawaban yang kadang keluar dari mulut saya apabila pertanyaan tersebut
terlontar. Jurusan sering jadikan kambing hitam. Jurusan yang susah dibuat
skripsinya dan administrasi kampus yang ribet adalah alasan utamanya. Dosen
pembimbing juga saya jadikan sebagai alasan telat wisuda. Dosen yang sangat
teliti dan susah ditemui menjadi penyebab utamanya. Alasan lain dan alasan ini
sering saya dengar dari senior terdahulu yaitu “buat apa cepat wisuda, ujung-ujungnya
jadi pengangguran juga”. Menurut saya ini alasan paling bodoh dan hanya bagi
orang-orang yang pesimis dan putus asa. Tapi apa boleh buat, alasan ini saya
lontarakan juga, khususnya menjawab pertanyaan mereka yang hidup dalam
keputusasaan. Pertanyaan pertama dan kedua biasa saya tujukan kepada orang tua,
keluarga dan teman-teman yang masih optimis dan tidak putus asa dalam menjalani
hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar